Saat aq diVonis hamil
Sejak dinyatakan hamil oleh bu bidan, hatiku senang bukan kepalang, kalimat tahmid itu berkali-kali aq ucapkan sebagai tanda syukur atas anugrerah-Nya, begitu pula dengan suamiku. Setahun ini kami memang menantikannya. Banyak yang bilang setahun adalah waktu yang lama, sampai-sampai ibuku berfikir hal-hal yang lain padaku, Na'udzu billah....
Awalnya aq juga berfikir begitu, namun semua hal ada hikmahnya. kami berdua selalu berusaha mencari hikmah-hikmah di balik itu.
"6 minggu". begitu kata bida setelah aq memeriksakan yang pertama. "dua minggu lagi USG ya" kata beliau. "Enggeh bu, kataku dengan patuh" . USG di RS pemerintah aja, bisa masuk Jampersal (Jaminan Persalinan), nanti minta surat rujukan di puskesmas terdekat".
"enggeh" sakli lagi aq meng iyakan.
kira-kira 2 minggu setelah itu, saat istirahat sekolah aq harus izin karena kepentingan mengurus surat rujukan tadi. sesampainya di Puskesmas, banyak sekali rangkaiannya untuk surat rujukan. tes ini, tes itu, dan tes tes yang lain.
Alhamdulillah... surat rujukan sudah ditangan. Hari berikutnya aq dan suami bermaksud datang ke RS tersebut. sehari sebelumnya aq sudah antisipasi, supaya suami daftar dulu, jadi nanti biar tidak ngantri, sesampainya di RS, terlihat masih ada banyak antrian. Sambil istirahat aq menikmati semilirnya angin2 yang memasuki celah dan lorong-lorong rumah sakit. tepat sekitar 10 menit, pikiranku langsung tertuju pada dokter kandungan yang di dalam situ.
"Kira-kira laki-laki atau perepuan?" terus saja pikiran itu mengganggu, karena tak tahan, maka aq bilang ke suamiq. "Mas, doktere laki-laki atau perempuan ya?"
"Aq juga nggak ngerti dek". jawabnya.
akhirnya kita berdua saling pandan tanda tak tahu. Suami berusaha mencari tahu dengan berjalan ke depan pintu tempat dokter itu memeriksa. Dr. Tauhid Islami. begitu tertulis.
Tulisan yang seperti itu belum bisa menjawab pertanyaan kami berdua, Tauhidnya sich laki-laki, tapi Islaminya?? perempuan. hehehhehe...
Untuk memecah keraguan kami, maka mau nggak mau kami harus bertanya pada resepsionis yang berada di depan. "Mbak, mau tanya, Dr. Tauhid Islami, Pak atau Bu??
"Pak Tauhid". Jawab resepsionis.
"hehehehehhe...." kami berdua berpandangan, dan tanpa fikir panjang, langsung saja pulang, tak lupa setelah mengucapkan terima kasih pada resepsionis tadi.
Entah mengapa rasanya aq belum bisa menerima, jika harus diperiksa oleh Dr. laki-laki. Secara ya... memeriksa kehamilan adalah hal-hal yang pribadi akan bisa terlihat, paling tidak jika dokternya perempuan kan sama-sama dengan kita. Lagian mungkin suamiq juga merasa risih atau nggak rela jika istrinya, auratnya dilihat sama orang lain.
2 Hari selanjutnya, kami memutuskan untuk USG ke bu Santi, salah satu dokter kandungan yang perempuan. Hari jum'at kami mendaftar ternyata sudah penuh, hari sabtu tutup, akhirnya kami mendaftar untuk hari senin.
Hari itu telah datang, sambil menunggu antrian, kami berdua membaca-baca majalah yanga ada di situ, di depan juga ada televisi, agar tidak jenuh mungkin. kupandangi orang-orang di sekelilingku, semuanya orang hamil, hanya perhitungannya yang berbeda, ada yang masih muda seperti aq, ada yang sudah membesar menjelang kelahiran. Hmmmmm.... merekalah wali-wali Allah yang akan berjuang, untuk bayinya. pikirku.
"Nyonya Ika Setyorini", begitu namaku dipanggil, aq dan suami segera memasuki ruangan. Terlihat Bu Santi dan 1 asistennya, masya Allah.. bu SANTI masih muda ternyata, dan cantik..
Terlintas dalam benakku, jika nanti anakku cewek, biarkan dia jadi dokter kandungan saja, AMIN.
Setelah ditimbang Berat badan dan diperiksa tekanan darah, perutku diolesi krim putih, digelindingkan di atasnya alat seperti pencukur kumis tapi berukuran besar. Alat itu digelindingkan mengitari bagian-bagian perutku. Terlihat seperti cairan bergerak-gerak, di dalam sana ada seperti sebutir telur, berwarna hitam-hitam agak putih, bergerak-gerak dan tidak jelas. Ditunjukkannya pula padaku sesuatu yang berdenyut-denyut, "ini jantungnya" begitu kata Bu Santi
"Subhanalloh" lirihku mengucapkannya. Kini di perutku ada calon keturunanku, dzurriyaku dan penerus perjuanganku. Akan kujaga senantiasa kebaikannya hingga nanti saatnya kamu keluar ke alam dunia, 9 Bulan lagi.
Awalnya aq juga berfikir begitu, namun semua hal ada hikmahnya. kami berdua selalu berusaha mencari hikmah-hikmah di balik itu.
"6 minggu". begitu kata bida setelah aq memeriksakan yang pertama. "dua minggu lagi USG ya" kata beliau. "Enggeh bu, kataku dengan patuh" . USG di RS pemerintah aja, bisa masuk Jampersal (Jaminan Persalinan), nanti minta surat rujukan di puskesmas terdekat".
"enggeh" sakli lagi aq meng iyakan.
kira-kira 2 minggu setelah itu, saat istirahat sekolah aq harus izin karena kepentingan mengurus surat rujukan tadi. sesampainya di Puskesmas, banyak sekali rangkaiannya untuk surat rujukan. tes ini, tes itu, dan tes tes yang lain.
Alhamdulillah... surat rujukan sudah ditangan. Hari berikutnya aq dan suami bermaksud datang ke RS tersebut. sehari sebelumnya aq sudah antisipasi, supaya suami daftar dulu, jadi nanti biar tidak ngantri, sesampainya di RS, terlihat masih ada banyak antrian. Sambil istirahat aq menikmati semilirnya angin2 yang memasuki celah dan lorong-lorong rumah sakit. tepat sekitar 10 menit, pikiranku langsung tertuju pada dokter kandungan yang di dalam situ.
"Kira-kira laki-laki atau perepuan?" terus saja pikiran itu mengganggu, karena tak tahan, maka aq bilang ke suamiq. "Mas, doktere laki-laki atau perempuan ya?"
"Aq juga nggak ngerti dek". jawabnya.
akhirnya kita berdua saling pandan tanda tak tahu. Suami berusaha mencari tahu dengan berjalan ke depan pintu tempat dokter itu memeriksa. Dr. Tauhid Islami. begitu tertulis.
Tulisan yang seperti itu belum bisa menjawab pertanyaan kami berdua, Tauhidnya sich laki-laki, tapi Islaminya?? perempuan. hehehhehe...
Untuk memecah keraguan kami, maka mau nggak mau kami harus bertanya pada resepsionis yang berada di depan. "Mbak, mau tanya, Dr. Tauhid Islami, Pak atau Bu??
"Pak Tauhid". Jawab resepsionis.
"hehehehehhe...." kami berdua berpandangan, dan tanpa fikir panjang, langsung saja pulang, tak lupa setelah mengucapkan terima kasih pada resepsionis tadi.
Entah mengapa rasanya aq belum bisa menerima, jika harus diperiksa oleh Dr. laki-laki. Secara ya... memeriksa kehamilan adalah hal-hal yang pribadi akan bisa terlihat, paling tidak jika dokternya perempuan kan sama-sama dengan kita. Lagian mungkin suamiq juga merasa risih atau nggak rela jika istrinya, auratnya dilihat sama orang lain.
2 Hari selanjutnya, kami memutuskan untuk USG ke bu Santi, salah satu dokter kandungan yang perempuan. Hari jum'at kami mendaftar ternyata sudah penuh, hari sabtu tutup, akhirnya kami mendaftar untuk hari senin.
Hari itu telah datang, sambil menunggu antrian, kami berdua membaca-baca majalah yanga ada di situ, di depan juga ada televisi, agar tidak jenuh mungkin. kupandangi orang-orang di sekelilingku, semuanya orang hamil, hanya perhitungannya yang berbeda, ada yang masih muda seperti aq, ada yang sudah membesar menjelang kelahiran. Hmmmmm.... merekalah wali-wali Allah yang akan berjuang, untuk bayinya. pikirku.
"Nyonya Ika Setyorini", begitu namaku dipanggil, aq dan suami segera memasuki ruangan. Terlihat Bu Santi dan 1 asistennya, masya Allah.. bu SANTI masih muda ternyata, dan cantik..
Terlintas dalam benakku, jika nanti anakku cewek, biarkan dia jadi dokter kandungan saja, AMIN.
Setelah ditimbang Berat badan dan diperiksa tekanan darah, perutku diolesi krim putih, digelindingkan di atasnya alat seperti pencukur kumis tapi berukuran besar. Alat itu digelindingkan mengitari bagian-bagian perutku. Terlihat seperti cairan bergerak-gerak, di dalam sana ada seperti sebutir telur, berwarna hitam-hitam agak putih, bergerak-gerak dan tidak jelas. Ditunjukkannya pula padaku sesuatu yang berdenyut-denyut, "ini jantungnya" begitu kata Bu Santi
"Subhanalloh" lirihku mengucapkannya. Kini di perutku ada calon keturunanku, dzurriyaku dan penerus perjuanganku. Akan kujaga senantiasa kebaikannya hingga nanti saatnya kamu keluar ke alam dunia, 9 Bulan lagi.
Komentar
Posting Komentar