detik-detik kelahiran Queen Qorrie 'Aina

Pagi itu seperti biasanya, bangun pagi kusempatkan otak-atik lap top, karena kebetulan ada pekerjaan menganalisis hasil Ulangan Tengah Semester punya murid-murid.
Dibilang rajin tentu tidak sepenuhnya benar, saya bukan tipical guru yang setelah selesai ulangan langsung dikoreksi dan dianalisis, akan tetapi nunggu mendekati dibagi, baru "Nubyak Nunyak" (jawa). Kegiatan hari-hari terakhir itu memang cukup menguras tenaga, disamping harus selesai masalah UTS, juga kegiatan manasik Haji yang akan dilaksanakan pasca UTS. Tidak tanggung2 pesertanya kurang lebih 500 orang, yahh.. sesuatu yang harus bener2 difikirkan.

Sudah menjadi rutinitas, ketika mandi pagi maka sebelumnya harus BAB (hehe.. maaf jika kurang enak dibaca). Begitu pula yang kurasakan pagi itu, ketika sedang serius mengerjakan, tiba-tiba perutku sakit. udah tak biarinn aja, klo mau BAB masih bisa aq tahan. q lanjutkan lagi pekerjaan sambil nunggu jam o6.45. Waktu mandi sudah datang, maka aq segera ke kamar mandi, ketika itu, aw aw aw... apa ini??? ada bercak darah di CD q, langsung aq teringat kata-kata bu Bidan, Jika kandunganku sudah waktunya hanya tinggal nunggu tanggal mainnya, tanda-tanda yang biasa terjadi menjelang kelahiran adalah, munculnya bercak darah tapi tidak banyak, atau kadang keluar lendir atau mungkin juga keluar air atau sebutan lain pecah ketuban. Saya mengalami salah satu tanda yang disampaikan bu Bidan, saya mengajak suami konsul ke bu bidan saat itu juga, jawabnya ringan. " Ya itu bisa saja tanda-tanda kelahiran, akan tetapi bisa juga kontraksi palsu, jika semakin sering semakin sakit, maka benar tanda persalinan, namun jika semakin lama semakin sembuh, maka itu hanya pengiring saja" dijelaskannya padaku. aku hanya manggut tanda mengerti. Akhirnya aq pulang dan memutuskan saat itu untuk ambil cuti. Di antar suami ke sekolah untuk mengajukan cuti, masih bertemu dengan wali murid RA, "Belum cuti to bu"?
"belum, jawabku pendek.
Sampai di madrasah aq menyampaikan maksud dan tujuanju pada kepala sekolah, klo mulai hari ini sampai 3 bulan ke-depan aq mengajukan cuti melahirkan. kepala sekolah mengiyakan dan mendoakan semoga semuanya lancar, gangsar, sehat semua. aq pun mengamini.
Belum sampai di situ saja, setelah aq menyampaikan izinku, maka aq harus menyelesaikan tugas yang menjadi tanggunganku saat itu. sampai dengan pukul 10.00 WIB aq masih di madrasah menyelesaikan tugas, tentu saja sambil menahan sakit, ketika perut berkontraksi.
Setelah dirasa cukup, maka aq segera izin pulang, kontraksi di perut semakin sering dan semakin sakit. Sampai di rumah aq mencoba untuk tidur dengan alasan agar aq tidak merasakan sakit saat perut kontraksi. hasilnya cukup meringankan sakit, ketika tidak kontraksi memang aman-sman saja, tapi ketika kontraksi tetap saja suakit, saking sakitnya aq mesti bangun.
Pukul 15.00 WIB, aq merasakan lagi kontraksi, sakit sekali. jika dihitung ini sudah sekitar 3-4 kali selama 10 menit. Aq merasa kesakitan, aq ajak suamiku untuk konsul lagi ke bidan. Bidan hanya bilang ditunggu lagi saja, di evaluasi lagi kontraksinya seberapa sering, atau bisa ditunggu di sini ( di rumah bidan tempat bersalin). Aq hanya berfikir... hhhhhh... sampai berpa lama ditunggu, sakitnya bukan main.
Aq tidak sabar harus menunggu di rumah bidan, maka aq memutuskan untuk pulang lagi.
Sampai di rumah aq mencoba tidur lagi, hahh.. tidak bisa, rasanya sakit. Ketika perut berkontraksi rasanya haduhh... maka aq langsung saja nungging, atau aq gunakan untuk mbrangkang, atau kalau nggak gitu, aq langsung ke kamar mandi, aq basahi perutq dengan air, agak sedikit mengurangi rasa sakit, tapi sakitnya lebih banyaaaakkk...
Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB saat itu, di luar rumah ramai riuh anak-anak RA Fatmawati latihan drumband. Di dalam rumah aq mringas-mringis menahan sakit, satu dua kali masih kutahan, namun yang terakhir ini aq sudah tidak bisa menahannya lagi sakitnya. Segera aq mengajak suami ke bidan lagi, rasa-rasanya adek mau keluar. Dalam keadaan kesakitan, masih saja ada rasa malu. Ketika kutengok keluar, ada wali murid yang sedang nunggui anak2 latihan, haduhh.. rasanya aq malu jika mereka harus tahu kalau aq mau melahirkan. Maka kutahan suamiq ketika dia hendak membawa tas perlengkapan melahirkan yang sudah sejak lama aq siapkan. "Aq malu mas, nti klo semua wali murid tahu aq melahirkan, gmn?"
"kok sek sempat mikir ngono to dek?? kata suamiku sambil terus saja memasukkan tas persiapan melahirkan ke dalam mobil, sedang aq masih clingak-clinguk menahan sakit dan malu.
 Akhirnya aq menyerah dan mengikuti suami untuk ke bidan lengkap dengan perlengkapannya. Dalam perjalanan ke bidan Wahyu terasa sangat jauh, padahal kita cuma beda dukuh. Jalan yang makadam membuat rasa sakitq semakin terasa, namun aq tetap bertahan. Akhirnya sampai jg di rumah Bidan Wahyu. Bidann wahyu segera menyambut dan mengarahkan untuk segera di kamar bersalin. Proses selanjutnya adalah pemeriksaan bukaan, sampai dengan pukul 5 sore ini ternyata udah bukaan 5. "ini cepat", kata mbak wahyu (begitu kami akrab memanggil bidan Wahyu).

Sejak saat itu aq mulai ..... (masih loading, capek, next time disambung lagi) hehhee... di dedek nangis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Sekolah Belum Dibuka?

Selamat Tahun Baru

"Rizqi dan Ikhtiar"