Serba Serbi Belajar di Rumah

sekali lagi ini bukan tulisan saya, tp entah kenapa setelah saya baca, kok saya ikut mengamini, tentu mengamini untuk hal yang positif. Yg setuju angkat kaki.... ups angkat tangan



*saya tidak menulis tentang corona tapi menulis tentang hal lain yang juga merupakan efek dari corona
__________

Kalau anak-anak terpaksa diliburkan sekolah berganti dengan tugas di rumah atau sekolah online seperti ini orang tua pasti merasakan bukan bagaimana menjadi guru untuk anak-anak sendiri? 

Di grup ibu-ibu sudah mulai banyak yang kualahan mengajari 2 sampai 3 anak sekaligus, membantu mengerjakan tugas. Bisa dibayangkan bagaimana seorang guru mengajar 20-25 siswa dalam satu kelas dengan berbagai karakter siswa? Terkadang orang tua yang faham karakter anak-anaknya saja kualahan mengajar anak-anaknya sendiri pelajaran di rumah. Bukan karena orang tua tidak menguasai pelajarannya, tetapi pengkondisian anaknya yang dikeluhkan.

Naaah, ini waktunya orang tua introspeksi, bahwa menjadi guru itu tidak mudah, menjadi guru itu berat, banyak orang tua yang mengeluh guru anak-anak kurang begini kurang begitu, menjelek-jelekkan sekolah dan guru-guru anaknya di grup, pernah denger dari temen kalau ada wali murid yang sampai manggil guru anaknya di grup khusus wali murid (guru tidak masuk di grup) dengan panggilan njambal tanpa penghormatan “ancene marqonah iku bla bla bla”, padahal Bu Marqonah bukan teman wali murid atau adik kelasnya dulu (nama Marqonah hanya nama samaran)

Hey, itu guru anaknya loh, yang pastinya haruslah legowo dan ikhlas anaknya diajarkan, ada wali murid yang protes tentang kurikulum, wali murid protes tentang kebijakan sekolah, wali murid memarahi guru, wali murid melaporkan guru ke polisi, yang sempat viral kemarin wali santri ngamuk ke seorang Kiai, saking tawadlu’nya Kiai beliau dimarahi tetap diam menunduk dan efeknya justru pihak kemenag mengancam pesantren. 

Ketika kita sudah memutuskan di mana anak kita menimba ilmu, di sanalah keberkahan kita raih, pasrahkan semua pada guru, hargailah keputusan mereka demi kebaikan anak kita, mintalah ridlo mereka demi kemanfaatan ilmu anak-anak kita. Ketika tengah perjalanan tidak cocok dengan pengajaran atau peraturan sekolah, bicarakanlah dengan baik atau pindahlah dengan cara ahsan, yang sesuai dengan yang diinginkan. Tidak perlu mengumbar kalimat-kalimat yang buruk yang akan menyakiti banyak pihak. Dengarkanlah nasihat dari guruku yang mengajarkanku Kitab Washaya

“Sesungguhnya durhaka kepada orang tua masih bisa bertaubat dan meminta maaf kepada mereka, dan orang tua pasti memaafkan karena orang tua adalah murabbiljasad, namun ketika seorang murid menyakiti hati guru, maka cahaya ilmu akan padam seketika dari dada seorang murid sebab guru adalah murobbirruh”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Sekolah Belum Dibuka?

Selamat Tahun Baru

"Rizqi dan Ikhtiar"